Wulanibni91's Blog

Just another WordPress.com weblog

perkembangan otak bayi April 18, 2010

Filed under: Uncategorized — wulanibni91 @ 6:32 am

MEMACU PERKEMBANGAN OTAK BAYI

Antara ibu dan bayi yang baru lahir, dibutuhkan hubungan yang erat sehingga perkembangan otak dan penalaran bayi terpacu dengan kondisi yang ada disekitar. Berikut ini 20 cara yang dapat dilakukan, saat bayi masih berusia di bawah enam bulan:

1. Lakukan pijatan-pijatan lembut pada tubuh bayi. Ada banyak buku, panduan dan kursus yang patut anda baca atau ikuti.
2. lakukan sesi regangan pada bayi. Luruskan kaki dan tangan bayi dengan lembut. Sebagai permulaan jangan paksa sampai lurus karena dapat menyakiti bayi. Lakukan dengan selembut mungkin dan anda berdua akan menikmati kebersamaan yang terjalin.
3. Saat mengganti popok atau menggendongnya, bicaralah padanya. Ceritakan apa yang sedang Anda lakukan padanya. Sehingga bayi akan belajar mengenai komunikasi dan bahasa. Anda juga akan mengajarkan sejak dini bagaimana cara bicara dan nada bicara yang digunakan.
4. Beberapa ibu/ayah berbicara dengan nada yang didramatisir saat bicara dengan bayinya. Ini yang disebut parentis (parentese) dan banyak dipraktekkan untuk menstimulasi otak bayi dan mengajar kemampuan bahasa lebih cepat.
5. Bernyanyilah pada bayi. Dengan pengulangan lirik atau pengulangan lagu akan membuat bayi belajar tentang kemampuan prediksi.
6. Tunjukkan pada bayi gambar-gambar sederhana, terutama dengan warna-warna yang mencolok dan tak lebih dari dua atau tiga obyek dalam satu gambar agar bayi tidak malah terpana/bengong.
7. Ciluk ba akan membantu bayi belajar mengenai obyek permanen. Jadi meski bayi anda tak dapat melihat Anda, ia merasakan bahwa Anda masih berada di sekitarnya. Ini akan membantu kepercayaan diri bayi yang merupakan hal mendasar pada setiap orang.
8. Meniru ekspresi muka dan suara bayi akan membuat bayi merasa bahwa dirinya memiliki pengaruh pada lingkungan sekitarnya.
9. Ubahlah posisi bayi sekurangnya setengah jam sekali, saat ia bangun. Letakkan ia di pangkuan, baringkan atau tengkurapkan ia. Sesekali biarkan ia duduk di ayunan dan ayunkan, sehingga membantunya mengetahui perbedaan di sekitarnya dan membuatnya tidak bosan.
10. Untuk melatih pendengarannya stimulasikan dengan suara disekelilingnya secara bergantian. Si kecil akan belajar untuk memfokuskan diri pada pendengaran dan menemukan obyek yang ia cari.
11. Beri bayi beberapa obyek untuk dipegang. Pastikan barang yang diberikan halus dan lembut (tidak kasar dan keras). Bantu bayi merasakan sentuhan atas tekstur suatu benda atau kain.
12. Saat bayi terlentang, gantung mainan anda sekitar 30 sentimeter dari wajahnya. Biarkan ia belajar memfokuskan mata pada obyek tertentu dan menikmati kesenangannya.
13. Saat dalam pangkuan, sesekali goyang-goyangkan kaki Anda perlahan. Banyak bayi yang menyukainya dan akan membantunya memahami pergerakan.
14. Beri bayi beberapa mainan yang dapat digigit. Pilihlah mainan yang aman dan tidak mudah tertelan.
15. Saat mulai besar, ajak ia bermain tepuk tangan dan menyanyi secara aktif.
16. Tunjukkan beberapa jenis binatang yang ada di sekelilingnya seperti, cicak, kucing atau kupu. Sebutkan dan beritahukan apa namanya. Si kecil mungkin akan menirukan satu suku kata dengan ucapan panjang, sebelum ia sendiri dapat mengucapkannya dengan lebih jelas.
17. Sesekali biarkan ia termenung atau terdiam karena sesuatu yang tidak kita ketahui. Biarkan ia menikmati ruangan yang sedikit gelap, ayunan dan suasana yang hening. Ini merupakan salah satu teknik relaksasi baginya.
18. Ajak si kecil jalan-jalan pagi untuk menghirup udara yang segar dan matahari pagi dan perkenalkan ia pada pengalaman baru.
19. Bercerita dapat membantunya mengenal ritme dan pola bicara.
20. Bisikkan kalau Anda sangat mencintai dan menyayanginya. Ia akan segera belajar apa arti cinta dan sayang sebelum ia dapat membalas ungkapan cinta dan sayang anda.

SUMBER : http://bukucatatan-part1.blogspot.com/2009/04/memacu-perkembangan-otak-bayi.html

MENGHAMBAT PERKEMBANGAN OTAK BAYI

UNDP (United Nation Development Programme) pada 2004 menyebutkan, indeks kualitas hidup masyarakat Indonesia berada di urutan 111 dari 177 negara di dunia. Sekitar 40% anak Indonesia menderita Anemia Defisiensi Besi (ADB). Anemia secara umum diartikan sebagai menurunnya massa sel darah merah dibandingkan nilai normal. Secara sederhana, anemia diartikan sebagai turunnya kadar hemoglobin atau hematokrit di bawah nilai normal pada umur tertentu pada suatu populasi.
Anemia Defisiensi Besi masih merupakan penyebab terbanyak kejadian anemia pada anak. Berbeda dibandingkan orang dewasa, ADB pada anak banyak disebabkan kurangnya asupan besi dari makanan, baik karena pola makan yang tidak tepat atau kualitas dan kuantitas makanan yang tidak memadai, dan karena pada anak terdapat peningkatan kebutuhan zat besi untuk proses tumbuh kembangnya.
ADB menyebabkan pertumbuhan otak bayi tidak optimal, pertumbuhan fisik lemah, daya tahan terhadap infeksi, dan konsentrasi belajar menurun yang dapat memengaruhi produktivitas kerja dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. De Pee, 2002, melakukan penelitian prevalensi anemia pada bayi usia 4-5 bulan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Hasilnya, 37% bayi memiliki kadar hemoglobin di bawah 10 g/dl, sedangkan untuk kadar hemoglobin di bawah 11g/dl mencapai angka 71%. Selain itu data menunjukkan, bayi dengan berat lahir normal dari ibu yang menderita anemia, memiliki kecenderungan hampir dua kali lipat menjadi anemis dibandingkan bayi dengan berat lahir normal dari ibu yang tidak menderita anemis.
Berbagai penelitian pada binatang menunjukkan adanya hubungan antara defisiensi besi dengan gangguan perkembangan kognitif. Fungsi kognitif adalah fungsi untuk mengambil, menyimpan, dan menyajikan kembali berbagai bentuk ingatan. Pada berbagai studi tersebut ditemukan, zat besi merupakan komponen esensial pada pertumbuhan otak dan fungsi sistem saraf pusat. Area otak yang berperan dalam fungsi kognitif membutuhkan zat besi lebih banyak dari area lain dalam hal perkembangan serta metabolismenya, sehingga kekurangan zat besi dapat memengaruhi fungsi serta perkembangan pada area tersebut. Pada bayi, anemia defisiensi besi menjadi salah satu penyebab terhambatnya fungsi kognitif, yang dapat bersifat irreversible (menetap).
Di Chili pernah dilakukan penelitian pada balita tentang dampak ADB terhadap fungsi pendengaran. Hasil penelitian menunjukkan, anemia defisiensi besi pada bayi mengakibatkan disfungsi ringan pada organ pendengaran dan penglihatan. Oski dkk menemukan, ADB pada awal kehidupan menyebabkan penurunan aktivitas enzim-enzim yang berpengaruh terhadap metabolisme nutrisi yang dampak selanjutnya dapat berupa gangguan perkembangan motorik dan aktivitas fisik yang diduga karena penurunan suplai oksigen pada serabut otot. Berbagai penelitian menemukan, pada anak usia 7 tahun dengan riwayat ADB, cenderung lebih ceroboh, kurang bisa memusatkan perhatian, dan hiperaktif dengan rata-rata skor IQ lebih rendah dan anak yang tidak anemia tetapi menderita defisiensi besi juga memiliki skor IQ yang rendah.
Bentuk kimia kandungan besi dalam makanan terdiri dari dua jenis, yaitu bentuk heme dan non heme. Bentuk heme terdapat pada hemoglobin dan mioglobin, yang terutama terdapat pada daging, hati, dan ikan. Besi heme menyusun sekitar 10-15% total besi dalam makanan. Absorbsinya hampir sempurna di usus dan sangat sedikit dipengaruhi faktor lain dalam makanan. Namun lebih dari 80% besi dalam makanan tersusun dalam bentuk non heme. 60% didapat dari produk hewani dan 100% dari produk nabati. Komposisi makanan pada bayi sangat sedikit mengandung daging, hampir semua besi dalam makanan terdapat dalam bentuk non heme yang absorbsinya tergantung seberapa besar bentuk tersebut dapat larut dalam usus. Terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat terhadap kelarutan besi non heme. Faktor pendukung berupa asam askorbat, daging, hati, dan ikan. Faktor penghambat yaitu inositol phosphate (fitat), kalsium, dan polyphenol.
Sereal yang terbuat dari gandum merupakan makanan pertama yang sering diperkenalkan pada bayi. Makanan ini mengandung banyak asam fitat yang dapat menurunkan bioavailabilitas besi. Bioavailabilitas merupakan efisiensi dari absorbsi dan penggunaan dari suatu nutrient. Tingginya kandungan asam fitat dapat dikurangi dengan mengaktifkan fitase alami pada sereal atau menambahkan fitase sintetik pada pembuatan produk sereal. Teknologi defitinisasi ini banyak dimanfaatkan pada upaya fortifikasi besi pada produk sereal maupun susu formula dari kedelai.
Absorbsi besi dari ASI dapat mencapai 50%, sedangkan pada susu formula baik yang berasal dari sapi maupun kedelai, hanya mencapai 4-10%. Anak usia 1-3 tahun pemberian susu formula perlu dibatasi, tidak lebih dari 24 oz/hari. Cadangan besi pada bayi cukup bulan yang mendapat ASI Eksklusif masih mencukupi kebutuhan metabolisme besi sampai usia 4-6 bulan dibanding yang tidak mendapat ASI Eksklusif. Setelah periode ini, status besi dalam tubuh sangat tergantung pada konsumsi besi dalam makanan, sehingga perlu diberikan suplementasi besi. Pada bayi cukup bulan dimulai pada umur 4-6 bulan, diberikan dalam bentuk tetes dalam vitamin. Untuk bayi premature dan berat badan lahir rendah suplementasi besi diberikan pada umur 2-4 bulan dengan dosis yang lebih tinggi.
Asam askorbat dapat membantu absorbsi zat besi dalam tubuh. Penambahan 100 mg asam askorbat pada 100 gr susu formula produk kedelai dapat meningkatkan absorbsi besi sebanyak 4,14 kali. Konsumsi sereal pada bayi di negara berkembang relatif jarang menggunakan teknologi fortifikasi yang dapat menurunkan bioavailabilitas besi dalam produk tersebut. Kondisi tersebut dapat diperbaiki dengan memberikan makanan kaya asam askorbat seperti buah-buahan dan sayuran pada saat memberikan sereal pada bayi. Fortifikasi besi dengan penambahan asam askorbat pada susu formula rasa coklat mampu meningkatkan absorbsi besi dalam formula tersebut karena minuman coklat banyak mengandung komponen polyphenol dan susu yang mengandung kalsium dan protein kasein yang dapat menurunkan absorbsi zat besi. Polyphenol juga banyak terdapat pada teh dan kopi.
Kadar besi yang berasal dari ikan, hati, daging (heme) lebih tinggi dibanding kadar besi dalam beras, bayam, gandum, kacang kedelai (non heme), demikian pula terhadap penyerapannya dalam usus. Penyerapan besi pada besi non heme juga dihambat kalsium, serat, tannin (dalam teh), dan dipercepat vitamin C (asam askorbat), HCl, asam amino, serta fruktosa.
Di daerah tropis, perdarahan pada bayi dan anak akibat parasit merupakan faktor penting terjadinya anemia defisiensi besi. Cacing tambang merupakan parasit yang paling sering menjadi penyebabnya. Untuk itu perlu diperhatikan upaya-upaya untuk menjaga kebersihan agar terhindar dari infeksi bakteri/infestasi parasit.
Telah diketahui, defisiensi besi memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, pengobatan terhadap Anemia Defisiensi Besi harus dimulai sedini mungkin yang dapat diketahui dengan skrining pemeriksaan darah tepi. Demikian pula tindakan pencegahannya.•
(Penulis adalah dokter yang tinggal di Sidoarjo Jawa Timur.)

SUMBER : http://suara-muhammadiyah.com/2009/?p=490

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s